Selasa, 14 Oktober 2014

RESAH


terasa tak menyenangkan

gelisah enggan pisah

angan lenyap tanpa asa

hampa

Pinjam Photo : di sini

Kamis, 24 November 2011

Wanita Terlengkap

di sini
Dialah wanita itu. Wanita terlengkap yang pernah kutemui seumur hidupku. Meski usianya hampir berkepala enam, ia masih tegar menjalani hari-harinya seperti aktivitas ibu rumah tangga yang lain. Bagiku, dirinya merupakan gabungan dari dua sosok wanita zaman dahulu dan wanita modern saat ini.

Wanita yang pantang menyerah menghadapi segala cobaan serta tantangan yang tak henti-hentinya hadir bagai angin yang kapanpun bisa menerpanya. Betapa tidak, di saat anak-anaknya masih kecil, suaminya tercinta telah lebih dahulu meninggalkannya.

“Kita harus bangkit nak. Kamu harus menjadi orang hebat, meskipun kita hanya hidup berkecukupan,” ujarnya kepada anak-anak waktu itu.

“Wak Ngah,” itulah sapaan akrab yang biasa dilontarkan orang-orang kepadanya. Walau hidupnya berkecukupan atau bahkan serba kekurangan, Wak Ngah tetap harus berjuang agar masa depan anak-anaknya menjadi jauh lebih cerah.

Segala daya dan upaya dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti berkerja sebagai buruh pabrik, menambang pasir di saat air sungai dangkal hingga berjualan makanan ringan ketika ada acara-acara keramaian di kampung.

Waktu menjadi buruh pabrik itu, pukul tiga subuh Wak Ngah telah bangun untuk mempersiapkan semua urusan rumah tangga, mulai sarapan dan makan siang untuk putra-putrinya sampai urusan keberangkatan anaknya ke sekolah. Menjelang siang ia berangkat bersama rombongan yang lain menuju lokasi kerja dengan dijemput satu unit mobil truk. Anak bungsunya pada waktu itu masih balita, terpaksa titipkannya dengan tetangga, atau dibawah ke sekolah oleh anak-anaknya yang lain. Begitulah hari-hari yang dijalaninya hingga akhirnya Wak Ngah diberhentikan dari perkerjaan itu karena terjadinya pengurangan tenaga kerja oleh perusahaan.

Tiada pekerjaan, tidak membuatnya patah arang. Ia tetap berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk biaya anak-anaknya sekolah. Padahal biaya yang harus dikeluarkan saat itu sangat tinggi, karena semua anak-anaknya sedang sekolah diberbagai tingkatan. Satu orang di SMA, dua SMP dan tiga orang lagi di tingkat SD.

“Masih banyak usaha lain, kita jangan pantang menyerah karena rezeki untuk kita itu pasti ada, asalkan kita tidak mencuri dan menjual barang harta benda yang kita punya,” ungkapnya dengan tabah kepada anak-anaknya.

Berbekal sedikit modal hasil pesangon, ia mulai berusaha membuka usaha dagangan kecil-kecilan. Yang ia jualpun hanya sekedar jajanan anak-anak ketika ada keramaian di kampung-kampung. Karena tidak memiliki tempat tetap, ia kadang mengambil upah dari para tetangga bila membutuhkan jasanya seperti berladang, bersawah dan sebagainya.

Teman-temanku ternyata juga sangat mengagumi Wak Ngah. Selain ia sering memberikan banyak nasehat yang berguna, ia juga banyak bercerita tentang sejarah dengan gayanya bicaranya yang khas. Tiada waktu yang terasa sia-sia ketika berbincang dengannya.

“Perempuan tradisional yang berpikiran modern,” itulah salah satu kalimat yang aku buat untuk menggambarkan sosok dirinya. Tak jarang perbuatannya dijadikan contoh bagi masyarakat di sekelilingnya.

Dulu, hanya beberapa orang tua saja di kampung tempat tinggalnya yang mau menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat SMA, karena melihat beberapa orang anak-anak dari Wak Ngah telah sarjana, orang-orang jadi terpancing untuk melakukan hal serupa.

Pada suatu waktu, aku pernah melihat sendiri ketika Pak Samin, salah satu tatangganya berkonsultasi dengan Wak Ngah mengenai anaknya yang ingin melanjutkan kuliah ke kota.

“Wak, anak saya yang baru tamat SMA tuh mau kuliah ke kota, biayanya besar dak wak, saya menanyakan ini karena anak Wak Ngah ada yang kuliah di sana,” tanya Pak Samin saat itu.

“Kuliah itu tergantung kemauan anak-anak dan keinginan kita untuk membiayainya, kalau memang ada kemauan semua itu pasti ada jalan keluarnya,” hanya itulah jawaban dari Wak Ngah.

Mendengar ucapan seperti itu, motivasi dalam diri aku langsung bangkit, meskipun ungkapan itu secara langsung bukan ditujukan kepadaku. Aku sangat yakin motivasi Pak Samin untuk meningkatkan pendidikan anaknya semakin bertambah dan ia tidak akan pernah merasa sia-sia berkonsultasi dengan Wak Ngah.

Wak Ngah memang dinilai oleh orang-orang disekelilingnya telah berhasil mendidik anak-anaknya itu tetap tak kenal lelah. Diusia tuanya itu, ia tetap saja menjalankan aktifitasnya seperti biasa meski putra-putrinya melarang untuk melakukan hal tersebut.

“Emak tidak ingin merepotkan kamu nak, emak pingin mencukupi kebutuhan emak sendiri, bukan dari orang lain. Jadi jangan pernah melarang emak untuk melakukan sesuatu,” ungkapnya meskipun anak-anaknya telah sukses seperti harapannya dulu.

Dialah wanita itu, wanita yang kadang bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi seluruh anaknya. Wanita yang tidak henti-hentinya berjuang melewati masa sulit hidupnya. (*)

Rabu, 02 November 2011

Tak Ada Lagi Aku, Tapi Kita

KINI memang telah berbeda. Semenjak kata yang menyatukan terucap, perlahan namun pasti perubahan itu kian nyata. Sebagaimana yang pernah kau lontarkan, penyatuan hati yang telah diikrarkan ini merupakan langkah awal kebahagiaan.

Tidak gampang bisa menyatukan dua pribadi, namun dengan perjalanan waktu, kita mampu menjalaninya dengan ketulusan dan cinta. Cinta yang akan tetap kita pupuk hingga tak pernah layu walau sedetikpun.

Atas dasar cinta yang kita miliki ini, setiap langkah sudah tak ada lagi kata aku, namun semua untuk kita. Apapun yang terjadi kita harus bisa terus menapakinya bersama.

Tahukah engkau, kebersamaan yang kita miliki sungguh indah. Setiap saat aku selalu bermimpi, berangan agar kebersamaan tetap utuh, karena kebahagiaan ada di situ.

Sudah seharusnya kebersamaan ini selalu kita jalani tanpa batas, walau perjalanan menujunya tak selalu indah. Namun, atas dasar keyakinan yang kita miliki, semua akan baik-baik saja. (*)

Senin, 11 April 2011

The Wedding


"demi cinta yang telah tercipta
kami pun melangkah bersama"
Palembang, 20 Maret 2011


Jika kau bertanya bilamana cinta membuat bahagia
dan kami pun melangkah berdua

sepenuhnya terimalah apa adanya kala dua beda menyatu

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Lembut,
menganugerahkan kekuatan kepada kami untuk membingkai

keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah

memberi keturunan kami yang shaleh dan shalehah,

mematrikan helai keikhlasan dalam setiap gerak meniti kehidupan


Semoga Allah Yang Maha Cinta, melimpahkan

saripati cinta kepada kami

cinta yang menghangati nafas keluarga dan menyelamatkan

Allah jua-lah yang menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan ini

tidak hanya di dunia yang serba fana

tapi sampai ke akhirat


Amiin!!!

Minggu, 06 Februari 2011

Kenangan di Rumah Kost

PADA saat ini, Februari 2011 menjadi genap dua tahun diriku berada di tempat kost miliki Pak Sarwardi di Jalan Diponegoro, Lorong H Somad Muara Bungo. Dari masa yang tidak singkat itu, begitu banyak kenangan yang telah diperoleh di rumah yang menyatu dengan keluarga ini.

Untuk diketahui, mengembil kosan ini sebagai tempat tinggal lantaran aku kenal dengan salah seorang putra pemilik kost. Yang mana, kami pernah berada dalam satu kampus di waktu kuliah. Lantaran di awal tahun 2009, mess yang dikontrakkan oleh kantor akan berakhir masa kontraknya, maka teman-teman pada sibuk mencari tempat tinggal baru.

Awalnya, aku bersama rekan-rekan sekantor ingin mencari rumah untuk mengontrak secara bersama, namun pada waktu yang ditentukan rumah yang ingin disewa tidak didapati, akhirnya kami memilih kontrakan sendiri. Ada yang mencari tempat kos, tinggal bersama keluarga bahkan ada yang tinggal di kantor menjelang ditemukannya tempat tinggal baru.

Sementara aku, terlebih dahulu memilih kamar kost di Lorong H Somad, yang dibelakangnya ada kolam pemancingan sehingga membuat betah tinggal dan menginap di sana. Selain itu, yang menjadi daya tarik, kosan di sini juga tergolong tempat yang murah dibandingkan dengan kosan-kosan lain yang berada di Muara Bungo.

Sementara itu, sebagai kenangan di awal aku tinggal di kosan ini, pernah pacarku (tidak berapa lama lagi jadi istri) bersama teman-temannya berkunjung dan melihat tempat tinggalku yang baru. Sebagai tamu, aku langsung mengajak mereka mengombrol di dalam kamar, karena di lantai bawah yang menjadi tempat kos-kosan memang tidak disediakan ruangan khusus untuk tamu.

Keesokan harinya, saat bertemu bapak kos, aku langsung mendapat teguran agar tidak menerima tamu wanita dalam kamar. Hal tersebut sangat bisa dimengerti, toh aturan yang dibuat juga demi kebaikan. Teguran ini langsung kuceritakan dengannya, dan Alhamdulillah dia bisa mengerti.

Selain itu, di tempat huni yang nyaman ini aku juga menemukan seorang sahabat baru, meskipun perjalalan itu tidak lama karena dirinya pindah tugas ke Kuamang Kuning, jadi sejak saat itu kami jarang berkomunikasi.

Tinggal bersama Pak Syawardi dan keluarga, bagiku sangat indah. Kami semua yang kost di tempat tersebut telah dianggapnya saudara sendiri, bahkan apa yang kami kebutuhan sebisanya tetap dipenuhi.

Kini sudah saatnya aku mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kapada kami untuk tinggal dan menyatu dalam keluarga ini. (*)

Rabu, 02 Februari 2011

rasa, (memang) sukar dimengerti

Aku benar-benar tidak bisa membenci atau mencintai orang dengan sepenuh hati. Semua perasaan yang ada, kadang sulit dimengerti. Mungkin, adanya pernyataan cinta dan benci itu jaraknya tipis ada benarnya. Sehingga aku benar-benar tidak mengetahui apa dalam cinta ada kebencian atau sebaliknya.

Selasa, 01 Februari 2011

Bisakah Kita Bicara

bisakah kita bicara?
tentang apa saja yang kau ingin
tak perlu ceritakan semuanya
sedikit saja, cukup

bisakah kita bicara?
tentang hati yang telah terbagi
tentang rasa yang tak lagi termiliki

lepaskan semua yang terpendam
mainkan emosi sesuka egomu
biar, semua lepas tanpa beban
di ujung perbincangan

Bungo, 010211