
Tiba-tiba, aku dikagetkan oleh telepon Ayuk (kakak perempuan) yang berada di Tebo. Beliau bilang, kalo rencana pesta yang telah kami rancang tanggal 13 Maret 2011 harus ditunda sekitar satu minggu, karena berkaitan dengan akan dilakanakannya Pemilukada Tebo, pada tanggal 10 Maret. Menurutnya, jika tanggal tersebut tetap dipaksakan, kemungkinan besar banyak keluarga yang tidak dapat menghadiri pesta, apalagi pelaksanaannya berkaitan dengan rekapitulasi dan perhitungan suara.
Atas saran tersebut, secara otomatis aku kebingungan karena beberapa waktu lalu keluarga dari Dian telah meminta biodata lengkap aku dan keluarga guna mencetak undangan di Palembang, sedangkan untuk undangan yang akan disebar di Muara Bungo, Tebo dan Kota Jambi, tetap akan dibuat di Muara Bungo.
Atas saran dari Ayuk tersebut, terlebih dahulu aku ingin memastikan apakah undangan telah digandakan, jika telah dilakukan maka akan sulit untuk merubah jadwal yang telah tercetak dalam undangan tersebut. Namun aku tetap menunggu Dian pulang kerja untuk membicarakannya.
Pas jam pulang kerja, aku berusaha untuk menjemput, dan dalam perjalanan langsung kubicarakan perihal tersebut. Alhamdulillah, Dian bisa memahami. Dan dirinya langsung menyarankan untuk menghubungi Ayah, karena keputusan akhir berada padanya dan keluarga yang di Palembang.
Ketika kubicarakan perihal tersebut kepada Ayah, dirinya cukup kaget atas rencana itu. Menurutnya, beberapa persiapan untuk tanggal 13 telah dilakukan, bahkan keluarga yang di Palembang rata-rata telah mengetahui. Untuk itu, Ayah minta waktu untuk memutuskan rencana tersebut.
Sekitar pukul 20.00 WIB, akhirnya Ayah menghubungi Dian dan menyetujui bahwa pesta akan digelar pada tanggal 20 Maret 2011. Namun persoalan tidak selesai di situ. Saat Dian menelpon, dia mengaku sangat tidak enak hati dengan perubahan jadwal yang aku usulkan, karena takut dinilai tidak konsekuen oleh keluarganya.
Aku berusaha menyakinkan Dian bahwa perubahan jadwal ini adalah jadwal yang terbaik bagi kita, dan Insyah Allah akan menjadi perubahan yang pertama dan terakhir, dan kita harus sama-sama berdoa agar tetap diberi kelancaran hingga hari pelaksanaan.
Dalam kondisi ini, aku mengaku sejujurnya kepada Dian, bahwa pada hari tersebut, aku tidak ingin orang-orang yang disayangi tidak berada di lokasi, terutama keluarga. Jika jadwal awal tetap dipaksakan, aku khawatir tidak bisa menikmati pesta, karena akan selalu kepikirian dengan keluarga yang tidak dapat menghadirinya.
Dari situ, kita sama-sama berharap agar perubahan jadwal ini adalah perubahan yang pertama dan terakhir, dan selebihnya selalu diberi kemudahan dalam menjalaninya. Amien!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar