![]() |
| di sini |
Wanita yang pantang menyerah menghadapi segala cobaan serta tantangan yang tak henti-hentinya hadir bagai angin yang kapanpun bisa menerpanya. Betapa tidak, di saat anak-anaknya masih kecil, suaminya tercinta telah lebih dahulu meninggalkannya.
“Kita harus bangkit nak. Kamu harus menjadi orang hebat, meskipun kita hanya hidup berkecukupan,” ujarnya kepada anak-anak waktu itu.
“Wak Ngah,” itulah sapaan akrab yang biasa dilontarkan orang-orang kepadanya. Walau hidupnya berkecukupan atau bahkan serba kekurangan, Wak Ngah tetap harus berjuang agar masa depan anak-anaknya menjadi jauh lebih cerah.
Segala daya dan upaya dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti berkerja sebagai buruh pabrik, menambang pasir di saat air sungai dangkal hingga berjualan makanan ringan ketika ada acara-acara keramaian di kampung.
Waktu menjadi buruh pabrik itu, pukul tiga subuh Wak Ngah telah bangun untuk mempersiapkan semua urusan rumah tangga, mulai sarapan dan makan siang untuk putra-putrinya sampai urusan keberangkatan anaknya ke sekolah. Menjelang siang ia berangkat bersama rombongan yang lain menuju lokasi kerja dengan dijemput satu unit mobil truk. Anak bungsunya pada waktu itu masih balita, terpaksa titipkannya dengan tetangga, atau dibawah ke sekolah oleh anak-anaknya yang lain. Begitulah hari-hari yang dijalaninya hingga akhirnya Wak Ngah diberhentikan dari perkerjaan itu karena terjadinya pengurangan tenaga kerja oleh perusahaan.
Tiada pekerjaan, tidak membuatnya patah arang. Ia tetap berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk biaya anak-anaknya sekolah. Padahal biaya yang harus dikeluarkan saat itu sangat tinggi, karena semua anak-anaknya sedang sekolah diberbagai tingkatan. Satu orang di SMA, dua SMP dan tiga orang lagi di tingkat SD.
“Masih banyak usaha lain, kita jangan pantang menyerah karena rezeki untuk kita itu pasti ada, asalkan kita tidak mencuri dan menjual barang harta benda yang kita punya,” ungkapnya dengan tabah kepada anak-anaknya.
Berbekal sedikit modal hasil pesangon, ia mulai berusaha membuka usaha dagangan kecil-kecilan. Yang ia jualpun hanya sekedar jajanan anak-anak ketika ada keramaian di kampung-kampung. Karena tidak memiliki tempat tetap, ia kadang mengambil upah dari para tetangga bila membutuhkan jasanya seperti berladang, bersawah dan sebagainya.
Teman-temanku ternyata juga sangat mengagumi Wak Ngah. Selain ia sering memberikan banyak nasehat yang berguna, ia juga banyak bercerita tentang sejarah dengan gayanya bicaranya yang khas. Tiada waktu yang terasa sia-sia ketika berbincang dengannya.
“Perempuan tradisional yang berpikiran modern,” itulah salah satu kalimat yang aku buat untuk menggambarkan sosok dirinya. Tak jarang perbuatannya dijadikan contoh bagi masyarakat di sekelilingnya.
Dulu, hanya beberapa orang tua saja di kampung tempat tinggalnya yang mau menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat SMA, karena melihat beberapa orang anak-anak dari Wak Ngah telah sarjana, orang-orang jadi terpancing untuk melakukan hal serupa.
Pada suatu waktu, aku pernah melihat sendiri ketika Pak Samin, salah satu tatangganya berkonsultasi dengan Wak Ngah mengenai anaknya yang ingin melanjutkan kuliah ke kota.
“Wak, anak saya yang baru tamat SMA tuh mau kuliah ke kota, biayanya besar dak wak, saya menanyakan ini karena anak Wak Ngah ada yang kuliah di sana,” tanya Pak Samin saat itu.
“Kuliah itu tergantung kemauan anak-anak dan keinginan kita untuk membiayainya, kalau memang ada kemauan semua itu pasti ada jalan keluarnya,” hanya itulah jawaban dari Wak Ngah.
Mendengar ucapan seperti itu, motivasi dalam diri aku langsung bangkit, meskipun ungkapan itu secara langsung bukan ditujukan kepadaku. Aku sangat yakin motivasi Pak Samin untuk meningkatkan pendidikan anaknya semakin bertambah dan ia tidak akan pernah merasa sia-sia berkonsultasi dengan Wak Ngah.
Wak Ngah memang dinilai oleh orang-orang disekelilingnya telah berhasil mendidik anak-anaknya itu tetap tak kenal lelah. Diusia tuanya itu, ia tetap saja menjalankan aktifitasnya seperti biasa meski putra-putrinya melarang untuk melakukan hal tersebut.
“Emak tidak ingin merepotkan kamu nak, emak pingin mencukupi kebutuhan emak sendiri, bukan dari orang lain. Jadi jangan pernah melarang emak untuk melakukan sesuatu,” ungkapnya meskipun anak-anaknya telah sukses seperti harapannya dulu.
Dialah wanita itu, wanita yang kadang bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi seluruh anaknya. Wanita yang tidak henti-hentinya berjuang melewati masa sulit hidupnya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar